Sejarah

By Awan Setiawan 07 Apr 2014, 13:10:57 WIB

Nama ARS diambil dari pronunciation ”R’s” yang dikenal sebagai ”US idiom” dari ”The Three R’s” yang berarti: Reading, (w)Riting, dan (a)Rithmatic, yaitu tiga dasar kehlian dalam belajar. Hal ini menunjukkan keinginan dari para pendiri untuk mendirikan suatu perguruan tinggi yang mampu mempersiapkan lulusannya dengan pengetahuan dan keterampilan tinggi di dalam pendidikan.

Nama Internasional sendiri mengandung pengertian: 1) kurikulum secara bertahap didisain sesuai dengan pasar kerja internasional, 2) menerima mahasiswa asing, dan 3) interaksi studi menggunakan Bahasa Internasional (Inggris) disamping bahasa Indonesia, sehingga diharapkan lulusannya mempunyai kemampuan daya saing internasional.

Visi Perguruan Tinggi ARS Internasional adalah menjadi institusi pendidikan tinggi yang unggul dan terdepan di tingkat nasional serta mampu berperan dan bersaing di tingkat regional (ASEAN).

Misi Perguruan Tinggi ARS Internasional adalah menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta memiliki budi pekerti luhur dan mampu bersaing di pasar kerja global.

Pada saat ini, terdapat 3 (tiga) lembaga/institusi setingkat perguruan tinggi yang ada di lingkungan Perguruan Tinggi ARS Internasional, yaitu Universitas ARS Internasional, Sekolah Tinggi Manajemen Pariwisata (STMP), dan Akademi Pariwisata (AKPAR) ARS Internasional. Adapun program yang diselenggarakan meliputi  pendidikan akademik dan vokasional, yakni program pascasarjana (S2), program sarjana (S1), dan program diploma 3 (D3).

Menurut historis pendiriannya, yang pertama berdiri adalah Akademi Pariwisata ARS Internasional yang berdiri berdasarkan SK Mendikbud Nomor 198/Dikti/Kep.1992 tanggal 1 Juni 1992, dengan program studi Perhotelan dan usaha Perjalanan Wisata. Sedangkan Sekolah Tinggi Manajemen Pariwisata (STMP) ARS Internasional  berdiri berdasarkan SK Mendikbud Nomor 064/D/O/1995 tanggal 21 Agustus 1995 dengan program studi Manajemen Pariwisata.

Universitas ARS Internasional didirikan pada tanggal 6 oktober 2000 berdasarkan SK Mendiknas No. 213/D/O/2000 sebagai pengembangan dari ARS International School atau Sekolah ARS Internasional yang didirikan pada tanggal 11 Juni 1997 oleh Yayasan Graha Harapan Generasi (YGHG). Saat ini Universitas ARS Internasional mempunyai 6 Fakultas, yakni Pascasarjana (S2) program studi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi (FE) program studi Akuntansi dan Manajemen Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) program studi ilmu komunikasi, Fakultas Teknik (FT) program studi Teknik Informatika dan Teknik Industri, Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD) program studi Komunikasi Visual/Multimedia dan Disain Interior,  Fakultas Ilmu Keperawatan (FIKA) program studi Ilmu Keperawatan.

Kondisi perguruan tinggi ARS sampai saat ini cukup memprihatinkan, suasana akademik kurang terlihat menggembirakan, sarana prasarana minimalis, tetapi semangat belajar mahasiswa yang masih tersisakan tetap menggelora di setiap diri mahasiswa, sehingga hal tersebut menjadi salah satu pendorong para dosen untuk tetap setia mengabdi menjadi pejuang-pejuang pendidikan di lingkungan pendidikan tinggi ARS Internasional.

Potret buram tersebut perlu segera dicari alternatif solusi agar  adanya pencerahan ke arah lebih baik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbasis pada program studi yang di perguruan tinggi ARS Internasional, sehingga tercetus ide untuk pendirian SMK MVP ARS INTERNASIONAL.

Selain hal di atas, ide pendirian SMK tersebut dirasakan cukup tetap waktu karena saat ini kebijakan nasional tentang pengembangan SMK sangat signifikan dan didukung penuh oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Menurut Dirjen Dikdasmen Depdiknas dalam http://www.indonesia.go.id/id menyebutkan bahwa:  

Pemerintah mengalokasikan dana total Rp 500 miliar untuk membantu pemerintah daerah memperbanyak pembangunan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di berbagai daerah, khususnya SMK yang bertaraf internasional. "Depdiknas siap membantu melakukan studi kelayakan bagi Pemda yang berniat untuk mengubah SMA menjadi SMK serta mengembangkan SMK-SMK baru sesuai dengan target pemerintah hingga 2009 nanti, … untuk memperbanyak sekolah menengah kejuruan (SMK) dan mengurangi sekolah menengah atas (SMA). Depdiknas mengharapkan perbandingan SMK dan SMA 70:30 pada 2009. Saat ini, rasio SMK dengan SMA masih 30:70. Target pada 2008 menjadi 40:60 dan pada 2009 rasio perbandingan SMK dengan SMA menjadi 70:30……Tujuan untuk terus memperbanyak SMK, menurut Suyanto, karena lulusan SMK lebih mudah masuk ke pasar kerja ketimbang lulusan SMA karena umumnya mata pelajaran di SMK sudah disertai dengan praktik keterampilan.

Siswa SMA yang tidak bekerja atau tidak melanjutkan ke perguruan tinggi menyumbang jumlah pengangguran yang saat ini jumlahnya mencapai 40 juta orang. Harapannya dengan diubah dari SMA ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) supaya mereka bisa bekerja pada orang lain atau membuka lapangan kerja sendiri”.

Pernyataan di atas juga sejalan dengan kebijakan pemerintah  daerah seperti yang tertulis dalam harian pikiran rakyat 3 agustus  2007, sebagai berikut :

Sampai tahun 2015, pemerintah akan mendistribusikan bantuan cukup besar kepada sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk mengejar target 70 persen SMK dan 30 persen SLTA. Namun, SMK-SMK Kab. Bandung mengalami kesulitan mencarikan dana bantuan tersebut karena Depdiknas mensyaratkan adanya dana pendamping dari pemerintah daerah maupun sekolah. Rasio jumlah SLTA dan SMK di Kab. Bandung masih jauh dari ideal seperti diinginkan Depdiknas”.

Berdasarkan hal di atas, apabila kita duduk bersama untuk mengkaji secara seksama program pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ARS Internasional, bukan hanya akan memberikan konstribusi yang signifikan secara Internal bagi pengembangan Perguruan Tinggi di Lingkungan ARS Internasional tetapi sangat mungkin dapat juga mempunyai sumbangan yang berarti bagi pengembangan sumber daya manusia secara nasional, melalui pengembangan lulusan sekolah menengah kejuruan yang kompeten, sehingga akhirnya dapat mengurangi pengangguran dan menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi.